Wello! :B You've stepped into an Idiot's paradise. Remember to tag and visit vanilla's blog @ cutey vanilla! -syazana-
Disclaimer
Welcome to my blog. Before anything else please follow these rules : No ripping, spamming, and any type of childish acts. Respect is a must. Best-viewed with screen resolutions 1024x768. Enjoy your stay and have fun!
put your site stats here
bold,italic,underlined,strong
Navigations

Home About Joined Profile Links Credits
Webmistress
Nurul Syazana aka Miss Nanami.i'm 20 years old (07 dec 1990).study in unisel.Saye Sombunk??ok..tq!!

Blabberings



Daily Reads
Mai
Ameyra
Intan
Zaty
Mimi
Tag me to apply for affies ;)
Moosic

This Flash Player was created @ FlashWidgetz.com.
myspace fetishflash fetishmyspace playlist

Written at Friday, October 2, 2009 | back to top

Cerita yang patut kita kongsi bersame :

Saya mengajar di sekolah rendah di tengah2 bandaraya Kuala Lumpur. Saya mengajar sesi petang. Salah seorang murid saya setiap hari datang lambat ke sekolah. Kasut dan bajunya selalu kotor. Setiap kali saya bertanya tentang baju dan kasutnya dia hanya berdiam diri.

Saya masih bersabar dengan keadaan pakainnya, tetapi kesabaran saya tercabar dengan sikapnya yang setiap hari datang lambat. Pada mulanya saya hanya memberi nasihat. Dia hanya menundukkan kepala tanpa berkata2 kecuali anggukkan yang seolah2 dipaksa. Kali kedua saya memberi amaran, dia masih juga mengangguk tetapi masih juga datang lambat keesokannya. Kali ketiga saya terpaksa menjalankan janji saya untuk memukulnya kalau masih lambat. Anehnya dia hanya menyerahkan punggungnya untukdirotan . Airmata saja yang jatuh tanpa sepatah kata dari mulutnya.

Keesokan harinya dia masih juga lambat, dan saya memukulnya lagi. Namun ia masih tetap datang kesekolah dan masih tetap lambat.

Suatu hari saya bercadang untuk mengintipnya ke rumahnya. Setelah mendapatkan alamatnya, saya meneruskan niat saya. Dia tinggal di sebuah kawasan setinggan tidak berapa jauh dari sekolah. Keadaan rumahnya sangat daif. Saya nampak murid saya itu sedang berdiri di depan rumahnya dalam keadaan gelisah. Seorang wanita yang mungkin ibunya juga kelihatan gelisah.

Lebih kurang pukul 1.30 seorang anak lelaki sedang berlari2 sekuat hati menuju ke rumah itu. Sambil berlari dia membuka baju sekolahnya. Sampai di depan rumah baju dan kasutnya diserahkan pula kepada murid saya yang terus bergegas memakainya. Sebelum pakaian sekolah sempurna dipakai, dia sudah berlari ke arah sekolah.

Saya kembali ke sekolah dengan penuh penyesalan. Saya memanggil anak itu sambil menahan airmata yang mula tergenang.

“Maafkan cikgu. Tadi cikgu pergi ke rumah kamu dan memerhatikan kamu dari jauh. Siapa yang berlari memberikan kamu baju tadi?”

Dia terkejut dan wajahnya berubah.

“Itu abang saya. Kami kongsi baju dan kasut sebab tak ada baju lain. Itu saja baju dan kasut yang ada. Maafkan saya, cikgu.” Jawabnya

“Kenapa kamu tak beritahu cikgu dan kenapa kamu biarkan saja cikgu pukul kamu?”

” Mak pesan, jangan meminta2 pada orang, jangan ceritakan kemiskinan kita pada orang. Kalau cikgu nak pukul serahkan saja punggung kamu.”

Sambil menahan airmata yang mula berguguran saya memeluk anak itu, “Maafkan cikgu, …….”

Kejadian itu cukup menginsafkan saya. Selepas itu saya cuba membantunya setakat yang mampu.